Pengalaman Omali Kena Tilang Pasal 281, Pait Gan!

Mencintai istri adalah sebuah kejahatan. Walau saya akui bahwa kalimat tersebut terlalu lebay, namun begitulah yang saya alami pada tanggal 10 November 2016 kemarin. Di hari Kamis yang teduh tersebut, saya yang ingin menunjukkan rasa cinta ke istri dengan menemaninya belanja ke pasar, kena tilang.

Omali ke pasar? Iya, ke pasar. Tempat yang sering dihindari oleh para lelaki untuk masuk ke dalamnya, kecuali mungkin mereka yang berdagang di pasar tersebut, saya kunjungi dengan sepenuh hati.

Sebenarnya saya termasuk lelaki yang enggan masuk ke pasar. Selain karena tidak ber-AC, alasan lainnya justru karena harga di pasar bisa ditawar. Bila melihat ibu-ibu yang menawar di pasar, apalagi sampai 1/3 (malah kadang 1/5) dari harga yang ditawarkan, hati ini terasa seperti diiris-iris. Apalagi kalau istri saya yang seperti itu, akan lebih pilu rasanya.

Bukan karena saya berempati kepada para pedagang, sama sekali bukan. Tapi karena saya jadi tersadar, betapa kecilnya uang belanja yang saya kasih ke istri, sehingga membuatnya harus berhemat sampai sedemikian. Apabila uang belanjanya banyak, tentu istri tak akan sungkan membeli tanpa menawar. Ya Allah, ampuni hambaMu yang lemah ini.

Nah, disebabkan uang belanja yang kecil itulah, saya kemudian bela-belain deh nemenin istri ke pasar. Demi pembuktian cinta. Terutama biar hemat ongkos, daripada naek angkot. Eh, malah kena tilang bapak polisi.

Slip Merah atau Slip Biru, Pilih Mana?

Adalah tikungan menuju pasar yang menjadi sebab. Ternyata memang, tikungan tidak hanya menjadi tempat para tukang ojek mangkal, atau tukang jual makanan seperti gul-tik (gule tikungan), tapi juga menjadi tempat favorit pak polisi melakukan razia.

Maka kenalah saya, yang sedang memboncengi istri naik motor, dalam arus razia tersebut. Saat pak polisi meminta surat-surat, saya hanya bisa menunjukkan STNK saja. “SIMnya mana?” saya jawab, “Gak punya Pak.” Jawaban yang belakangan saya ketahui ‘salah’, sebabnya akan saya jelaskan saat membahas denda tilang nanti.

Pak polisi pun membuatkan surat tilang dalam slip berwarna merah. Saya ditulis telah melanggar UU Lalu Lintas pasal 281. Dan diharuskan mengikuti sidang tilang di PN Jakarta Selatan tanggal 18 November 2016 jam 9 pagi.

Lho, kok slip merah? Kenapa gak minta yang biru? Mungkin akan ada yang bertanya seperti itu.

Saya termasuk yang pernah membaca tentang slip merah dan biru, bahwa bila seseorang ditilang, sebaiknya mintalah slip biru dibanding merah. Namun setelah mendengar pengalaman teman yang pernah meminta slip biru ketika ditilang, saya jadi berpikir bahwa slip merah lebih cocok untuk saya.

Emang gimana sih pengalaman teman itu? Ini 7 poin penting tentang slip biru yang saya ingat:

  1. Slip biru berarti orang yang ditilang mengakui kesalahan
  2. Karena itu harus membayar denda maksimal atas pelanggaran yang dilakukan
  3. Denda dibayarkan melalui bank yang ditentukan (dapat dibayar langsung pada hari ditilang)
  4. Setelah denda dibayar, bukti pembayaran dapat diserahkan ke kantor polisi (polsek) untuk mengambil surat (SIM atau STNK) yang ditahan
  5. Orang yang ditilang tidak lagi wajib mengikuti persidangan
  6. Apabila hasil persidangan ternyata memutuskan denda tilangnya lebih rendah dari denda maksimal, maka orang yang ditilang dapat menerima pengembalian uang denda
  7. Untuk menerima pengembalian uang denda, orang yang ditilang dapat memrosesnya di kantor kejaksaan

Sebenarnya penjelasan dari beda slip biru dan merah, bisa juga kita baca dari surat tilang yang diberikan. Kalau kamu baca gambar surat tilang terlampir di atas, kamu akan kebayang bedanya.

Nah, dari 7 poin tersebut, saya berkesimpulan bahwa slip biru lebih bikin ribet. Emang sih, dengan slip biru kita bisa langsung mengambil lagi SIM atau STNK yang ditahan, setelah bayar lewat bank. Tapi kan tetap harus mengurus pengembalian kelebihan denda tilang di kejaksaan, ini yang bikin ribet.

Lho, kenapa gak diikhlasin aja kelebihan dendanya? Paling gak seberapa. Toh masuknya ke rekening negara, jadi anggap saja sebagai bagian dari kontribusi kita untuk pembangunan. Hmmm, kalau kamu berpikir seperti itu, mungkin belum tahu, apa yang dimaksud dengan denda maksimal ya?

Daftar Denda Tilang dan Apa Itu Pasal 281

Beberapa hari setelah ditilang, saya yang sebelumnya juga pernah ditilang (sekitar tahun 2006) karena kesalahan yang sama, ngobrol dengan teman seputar denda tilang. Saat ditilang pada tahun 2006 itu saya baru saja kehilangan SIM termasuk dompetnya. Mengurus STNK dan KTP mudah saja saya lakukan. Tapi entah kenapa mengurus SIM saya rada malas.

Saat saya ceritakan kalau tahun 2006 itu saya hanya membayar denda sebesar Rp 47.000, teman saya langsung mengatakan bahwa daftar denda sudah berubah sejak tahun 2009, jadi lebih mahal. Segeralah saya melakukan googling dan menemukan daftarnya dalam situs polri.go.id.

Klik ini dong:  Teman Duduk Dalam Bus Bernama Orangtua

Berikut daftar denda tilang berdasarkan UU no. 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan untuk sepeda motor:

  1. Setiap pengendara kendaraan bermotor yang tidak memiliki SIM dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 bulan atau denda paling banyak Rp 1 juta (Pasal 281).
  2. Setiap pengendara kendaraan bermotor yang memiliki SIM namun tak dapat menunjukkannya saat razia dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 288 ayat 2).
  3. Setiap pengendara kendaraan bermotor yang tak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 280).
  4. Setiap pengendara sepeda motor yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan seperti spion, lampu utama, lampu rem, klakson, pengukur kecepatan, dan knalpot dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 285 ayat 1).
  5. Setiap pengendara yang melanggar rambu lalu lintas dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 287 ayat 1).
  6. Setiap pengendara yang melanggar aturan batas kecepatan paling tinggi atau paling rendah dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 287 ayat 5).
  7. Setiap pengendara yang tidak dilengkapi Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor atau Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 288 ayat 1).
  8. Setiap pengendara atau penumpang sepeda motor yang tak mengenakan helm standar nasional dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 291 ayat 1).
  9. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan tanpa menyalakan lampu utama pada malam hari dan kondisi tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). (Pasal 293 ayat 1)
  10. Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor di Jalan tanpa menyalakan lampu utama pada siang hari sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 15 (lima belas) hari atau denda paling banyak Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah). (Pasal 293 ayat 2)
  11. Setiap pengendara sepeda motor yang akan berbelok atau balik arah tanpa memberi isyarat lampu dipidana kurungan paling lama 1 bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (Pasal 294).
Daftar Denda Tilang
anthonykusuma.com

Di sinilah kenapa saya jadi berpikir ‘salah’ memberi jawaban ketika ditanya “SIMnya mana?” dan saya menjawab, “Gak punya Pak.” Karena saya jadi terkena pasal 281, yaitu kesalahan tidak memiliki SIM. Denda maksimalnya paling tinggi, satu juta rupiah! Pait pait paiitt!!

Padahal andai saya menjawab dengan “Gak dibawa Pak,” mungkin saya hanya terkena pasal 288 ayat 2 dan kena denda maksimal 250 ribu rupiah. Selisihnya 750 ribu, lumayan. Eh tapi bohong gak sih? Kayaknya nggak deh, kan emang beneran gak dibawa karena hilang sejak tahun 2006. Hahaha.

Tapi ya sudahlah. Dengan berat hati kemudian saya mengabarkan ke istri kalau kemungkinan jatah belanja bulan ini akan semakin sedikit. Sebabnya karena saya berpotensi harus membayar denda tilang sebesar satu juta rupiah. Alhamdulillah istri mampu tegar menghadapi kenyataan. Lagian salah saya juga sih, belok gak liat-liat dulu karena gak punya SIM.

Lalu, apakah denda yang harus saya bayar benar-benar sebesar satu juta rupiah? Bagaimana rasanya menjalani sidang pengadilan? Haruskah saya nego dengan menggunakan calo, agar dendanya diputuskan serendah mungkin?

Karena postingan ini saya ketik malam-malam dan saya mulai mengantuk, pembahasan sidangnya akan saya lanjut dalam postingan berikutnya ya.

Postingan ini juga berupa pengalaman pribadi, jadi saya sangat terbuka atas segala masukan atau koreksi apabila ada kesalahan informasi. Insya Allah tulisannya akan saya edit nanti.

Dadaahhh…

11 thoughts on “Pengalaman Omali Kena Tilang Pasal 281, Pait Gan!

    • November 22, 2016 at 10:29
      Permalink

      Aamiin mas, lain kali saya akan lebih berhati-hati saat belok di tikungan… 😀

      Reply
  • November 22, 2016 at 08:28
    Permalink

    pernah ama suami kena tilang, trs minta slip biru malah ga dikasih…ya udah pasrah deh…huahahaha…tapi ternyata malah ngeri ya kalo kena denda maksimal -_-

    Reply
    • November 22, 2016 at 10:56
      Permalink

      Sebenernya kalo slip biru, menurut saya, yang ditilang dan polisi sama2 repot. Karena polisi masih harus ‘ngejagain’ barang bukti in case yang ditilang mau ambil di polsek. Kalo slip merah kayaknya polisi bisa langsung ngirim barbuk ke pengadilan.

      Sidangnya sih sama2 ada, cuma kalo slip biru kan ga ada surat yang ditahan, jadi kalo kita mau ikhlasin uangnya ya gapapa, gausah repot ikut sidang atau urus pengembalian lebih bayar denda.

      Reply
  • November 22, 2016 at 12:31
    Permalink

    Khan disidang dulu… 1jt khan denda maksimal. Bisa aja hakimnya ngasih putusan denda cuma 100rb, 200rb, atau lainnya. Tergantung putusan hakim… Kalau merasa keberatan dengan putusan hakim, bisa minta kasasi ke MA koq.

    Reply
    • November 25, 2016 at 10:24
      Permalink

      Gokil…kasasi kasus tilang 😀

      Reply
  • November 22, 2016 at 23:21
    Permalink

    Toss Om. Bojoku bar keno tilang n aku sing kon sidang tgl 25 besok. Harusnya bisa tanggal 18 kemarin, tp mbuh negosiasinya..

    Reply
    • November 25, 2016 at 10:28
      Permalink

      Kok bisa minta sidang diundur? Mungkin tanggal 25 tinggal bayar dan ambil barang yang disita di kejaksaan kali mbak.

      Reply
  • November 24, 2016 at 21:12
    Permalink

    sing sabar gan… memang pahit tapi pasti ada pelajaran yang bisa kita ambil

    Reply
  • April 27, 2017 at 16:02
    Permalink

    Alhamdulillah ini pengalaman yg harus dilewati… suami kena tilang kena pasal 281 slip biru denda maksimal 1 jt… pdhl bawa sim tapi mati… kasih sim mobil tetep ga mau hihihi… sebetulnya minta nego tapi suami ogah mending ditilang saja…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *