Sadako, Sepultura dan Perjuangan Eksistensi

Pada mulanya saya adalah remaja yang bingung dengan musik dan lagu. Lebih tepatnya sih, bingung dengan mereka yang menyebut dirinya fans dari para pemusik dan pelagu (bener ga pelagu? kalo belagu apanya pelagu?). Bingung dengan para fans yang kalo ketemu idolanya terus teriak-teriak memanggil. Bingung kenapa para idola tersebut begitu tulinya sampai harus diteriaki. Apakah tuli itu adalah risiko menjadi idola? Ataukah syarat menjadi idola harus tuli? Entahlah.

Kebingungan itu kemudian berubah jadi keterasingan, ketika saat remaja saya menemukan diri sulit ‘nyambung’ bila ngobrol dengan teman-teman sebaya. Bagaimana tidak terasing, di saat saya mengajak membahas fisika, mereka mendiskusikan jadwal manggung band A, saat saya membahas matematika, mereka mendiskusikan tentang album baru band B, saat saya membahas geografi, mereka mendiskusikan personel baru band C. Sedikit mirip lah dengan karakter Dave Lizewski di film Kick Ass.

Akhirnya setelah melalui perenungan yang dalam dan pertimbangan yang matang (eeaaa), saya ketika itu menyimpulkan bahwa musik dan lagu adalah simbol eksistensi remaja seusia saya, bukan geografi atau matematika. Bahwa idola-idola remaja adalah para pemusik dan pelagu, bukan guru fisika atau kepala sekolah (emang siapa yang mau mengidolakan kepala sekolah??). Sehingga saat itu saya kemudian dengan cerdasnya membuat sebuah hipotesa; bahwa semakin saya menguasai informasi tentang para pemusik dan pelagu tersebut, maka eksistensi saya akan semakin diakui oleh teman-teman sebaya.

Dan mulailah sejak hipotesa itu dideklarasikan, saya menjadi fans New Kids On The Block, semata karena boyband itu dulu sangat digandrungi gadis-gadis yang saya kenal. Mulai kaset, topi, buku tulis, gantungan kunci, semua tentang NKOTB. Saya pun menghapalkan lagu-lagu NKOTB, agar bisa menyanyikannya di hadapan para gadis yang terpesona dengan boyband tersebut. Namun apa daya semakin dinyanyikan, semakin para gadis tersebut menjauh. Benar-benar anomali.

Merasa tidak berhasil dengan NKOTB, saya lalu pindah aliran musik dan mulai merambah metal. Generasi headbanger (mengangguk-anggukkan kepala dengan cepat) dengan rambut panjang di depan ala Sadako The Ring, mulai saya minati. Bahkan saya dulu memiliki sebuah topi lengkap dengan rambut palsu panjang terjahit pada topi tersebut. Semata agar bisa ikutan headbang bareng teman-teman, karena tentunya saya yang ketika itu masih sekolah tidak boleh berambut panjang. Di ranah metal ini saya berkesimpulan; semakin keras musiknya, semakin eksis saya di hadapan teman-teman.

Sadako dan Headbang ala Metal
rantchick.com

Sayapun mulai mengoleksi Guns n Roses dan Metallica. Bahkan ketika itu, Bon Jovi tidak saya lirik, karena buat saya remaja, Bon Jovi adalah musik para banci (gaya bener). Setiap kali ke toko kaset yang saya cari adalah aliran metal dan hard rock, there was no room for slow rock. Sampai adik-adik saya ikut-ikutan metal. Dan membuat penjaga toko kaset bingung, karena saya SMP ketika itu, dengan adik bungsu yang masih SD, tapi si bungsu minta kaset Metallica di sana. Mengetahui si bungsu meminati Metallica, saya remaja tak mau kalah. Saya menanyakan aliran yang lebih metal dari Metallica (padahal namanya aja udah Metallica, emang ada yang lebih metal lagi?). Dan si penjaga toko ketika itu menawarkan Sepultura (itu mah harusnya lebih sepul dari Metallica).

Klik ini dong:  Beragama Secara Bodoh

Apaan? Sepur? Semprul? Bahkan nama itu baru saya dengar. Yang saya ingat ketika itu hanyalah cover kaset berwarna kuning dengan gambar monster bermata besar di covernya. Kaset itu berhadiah stiker Sepultura. Tanpa dicoba, sayapun mengiyakan dan membelinya.

Cover Album Sepultura
wallpaperfav.com

Besoknya saya memamerkan Sepultura pada teman-teman. Tapi respon mereka biasa-biasa saja. Padahal itu aliran thrash metal katanya, lebih garang dan lebih cowok dibanding Guns n Roses. Kenapa mereka tidak antusias? Saya menemukan jawabannya setelah menyetel kaset Sepultura kemudian. Dan setelahnya kaset itu enggan saya putar lagi.

Sejak saat itu saya mulai berpikir, bahwa eksistensi tidak harus selalu dikejar dengan cara ikut-ikutan. Bahwa saya dan setiap orang punya keunikan masing-masing. Mau membahas matematika dan geografi di saat yang lain membahas band A dan band B, itu adalah sebuah keunikan yang spesial. Bahwa dengan menjadi berbeda dan unik, eksistensi diri saya perlahan akan diakui orang lain, bila keterbedaan dan keunikannya bisa memberi manfaat.

Dan sekarang, saya yang sudah tidak terlalu berminat dengan lagu-lagu barat kontemporer membuat hipotesa baru; musik dan lagu adalah alat untuk mengingatkan, bahwa diri ini adalah hasil karya mutakhirNya yang harus memberi manfaat bagi orang lain. Kini saya merasa tak perlu lagi berpura-pura menyukai musik dan lagu yang disukai orang lain, tapi belum tentu disukai diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *