Pro Kontra Jokowi dan Civil War Dunia Maya

Pasca kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah, masyarakat terbelah. Pro dan kontra bermunculan, dua kubu sama kuat terbentuk. Saling kritik, saling debat, berujung pada pertarungan tak terelakkan. Kehancuran di mana-mana, penyesalan bermunculan, namun sudah terlambat. Sungguh sangat terlambat.

Paragraf pembuka di atas bukanlah sedang menceritakan tentang Indonesia. Bahkan itu sama sekali bukan refleksi kejadian di dunia nyata. Itu hanyalah sebuah sinopsis dari film Captain America: Civil War yang rencana tayang pada 6 Mei 2016 mendatang. Dalam rilisnya, Marvel Studios mengatakan bahwa akibat kerusakan dan korban yang terjadi dalam pertarungan antara para pahlawan super menghadapi para penjahat, pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan yang membatasi ruang gerak para pahlawan super. Ruang geraknya dibatasi, sebagian pahlawan super kemudian memprotes kebijakan tersebut, hingga lahirlah dua kubu yang masing-masing dipimpin oleh Captain America dan Iron Man.

Sepintas tampak ada kemiripan antara Civil War yang terjadi antara para pahlawan super di atas dengan apa yang saat ini tengah terjadi di Indonesia, terutama di dunia maya. Masyarakat seolah terbelah menjadi dua kubu besar: pro Jokowi dan kontra Jokowi. Hampir tidak ada kebijakan yang dikeluarkan Jokowi yang tidak dikritik. Di sisi pembelanya, hampir tidak ada kekeliruan yang dilakukan Jokowi yang tidak dibela. Seolah konsistensi hanyalah monopoli mereka yang hanya terus mengkritik atau yang hanya terus membela, tidak ada ruang bagi orang yang mencoba netral, membela yang dianggapnya benar dan mengkritisi yang dianggapnya keliru. Pilih salah satu: bersama kami atau memusuhi kami.

Ironisnya, seperti Civil War dalam film Captain America mendatang, mereka yang bertarung adalah orang-orang baik. Ini bukan lagi pertarungan antara pahlawan melawan penjahat, tapi sudah menjadi pertarungan antar pahlawan. Sebagiannya adalah kawan karib, sebagiannya lagi tetangga, saudara, bahkan suami-istri, bertarung entah untuk apa dan siapa. Sementara mereka bertarung, para penjahat leluasa menjalankan aksi kejahatannya, karena para orang baik asyik menusuk kawan sendiri.

Saya tidak sedang ingin mengatakan bahwa mengkritik Jokowi itu tidak baik, atau bahwa membela Jokowi itu tidak benar, namun tak bisakah semua itu dilakukan secara santun? Alih-alih mengkritisi kebijakannya, mereka yang kontra kadang bablas mengkritik hal-hal pribadi tentangnya. Istilah jokodok, kecebong, serta berbagai hujatan lainnya kadang jauh lebih banyak disebut dibandingkan kritiknya sendiri. Bahasa tubuh Jokowi bahkan anggota keluarganya turut menjadi bahan gunjingan pelampiasan emosi membara, yang kadang sukses dimanfaatkan oleh pihak tertentu dengan menyebarkan isu hoax seperti “Konser Slank Lengserkan DPR” kemarin. Walau Slank secara resmi telah membantah isu tersebut, namun informasinya sudah kadung di-share oleh banyak orang.

Civil War Dunia Maya
kompasiana.com

Tak cukup menghujat Jokowi, mereka yang kontra kadang makin bablas lagi turut menghujat mereka yang memilih Jokowi dalam pilpres 2014 kemarin. Keseringan dihujat dan disalahkan di dunia maya, membuat sebagian dari pemilih Jokowi tersebut menjadi sensitif di dunia nyata, mudah tersulut. Sekarang bahkan obrolan warung sekadar membahas harga-harga yang naik bisa membuat mereka tersinggung karena merasa disalahkan, padahal obrolan itu hanyalah obrolan sehari-hari biasa, tidak ada maksud menyinggung sama sekali.

Klik ini dong:  Sudahkah Kita Siap Pensiun?

Lalu sampai kapan ‘civil war’ ini akan berlangsung? Haruskah sampai tahun 2019? Semoga tidak. Semoga saja semua pihak dapat saling berusaha menahan diri, tidak mengkritik berlebihan sampai membenci, pun tidak membela berlebihan sampai mengkultuskan. Sebagian media online telah mau menerima kritik (bahkan somasi) dan berupaya mengubah konten-konten kritiknya, sebagian lainnya semoga segera menyusul.

Sebuah teladan menarik dapat kita contoh, bagaimana Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sofyan radhiyallahu anhuma bersikap dalam Perang Shiffin, episode civil war dalam sejarah yang melibatkan keduanya beserta para sahabat Rasulullah SAW lainnya. Dalam Perang Shiffin, pasukan Ali dan Muawiyah bertempur berkali-kali, orang awam mungkin akan menyimpulkan bahwa keduanya berperang karena tersulut rasa benci satu sama lain. Namun coba simak kutipan kitab Minhaj As-sunnah An-nabawiyyah yang ditulis oleh Ibnu Taimiyah berikut:

Dari Ishak bin Rahuyah dengan sanadnya dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya ia berkata, pada Perang Jamal atau Perang Shiffin Ali ra mendengar seorang laki-laki terlalu berlebihan dalam mengomentari peristiwa itu, maka Ali ra berteriak, “Janganlah berkomentar kecuali yang baik-baik saja, karena mereka adalah kaum yang mengira bahwa kita membangkang terhadap mereka, namun kita memandang merekalah yang membangkang terhadap kita, akhirnya kita pun memerangi mereka.”

Adapun sikap Muawiyah ra terekam dalam kitab Siyar A’lam An-nubala yang ditulis oleh Imam Adz-dzahabi berikut:

Dalam sebuah perbincangan, Abu Muslim Al-khaulani bertanya kepada Muawiyah, “Anda menyelisihi Ali ataukah Anda bersikap sepertinya?” Muawiyah pun menjawab, “Tidak, demi Allah sungguh saya tahu bahwa ia (Ali) lebih utama dari saya dan lebih pantas memegang tampuk kekhalifahan daripada saya…”

Demikianlah teladan para sahabat Rasulullah SAW, bahkan ketika saling berperang pun mereka tetap berusaha memuliakan satu sama lain. Tidakkah kita dapat mengambil pelajaran darinya?

-9 September 2015, tulisan ini telah dimuat di undergroundtauhid.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *