Prihatin di Kala Krisis

Pada sebuah pesta pernikahan, tersebutlah dua orang kawan yang sudah berteman sejak masih kuliah, lalu keduanya kini jadi saudara ipar, karena salah satunya menikahi adik kawannya (prolog penting). Di pesta pernikahan itu, keduanya berstatus sebagai undangan.

Satu motor berdua, mereka mendatangi pesta pernikahan tersebut.

Kawan 1: Ini tempatnya?

Kawan 2: Kalo liat petanya sih bener…masuk yuk, gue udah laper…

Kawan 1: Ntar dulu deh, kayanya angpaonya ketinggalan.. (sambil merogoh saku)

Kawan 2: Angpao? Kirain tadi udah dibawa…

Kawan 1: Iya, kelupaan nih…gimana dong?

Kawan 2: Emangnya gak bawa uang?

Kawan 1: Bawa sih di dompet, 50 ama 100 ribu…

Kawan 2: Aduuuhh, jaman krisis begini, bencana di mana-mana, harga-harga naik, ngasih angpao jangan banyak-banyak….dah, pake duit gue aja!

Kawan 1: Oke deh……terus amplopnya?

Kawan 2: Santai aja………….

Dan pergilah si kawan 2, ke meja penerima tamu. Merogoh saku celananya, mengambil selembar 10 ribu, melipatnya rapi dan……………………….PLUNG! Memasukkannya ke kotak, berasa kotak amal masjid.

Lalu keduanya makan dengan nikmat setelah itu. Membuat SBY pun prihatin kalau melihatnya.

***

-ditulis ulang berdasar postingan Multiply, 15 Juli 2008-

krisis ekonomi
scoopnest.com

0 thoughts on “Prihatin di Kala Krisis

  • February 26, 2014 at 14:28
    Permalink

    Kebanyakan!!

    Mendingan kasih goceng masukin amplop yang gope’an..

    Jadinya irit 4.500

    Reply
    • February 26, 2014 at 18:02
      Permalink

      Berdasar kisah nyata yang ditulis ulang berdasar postingan multiply

      Reply
      • February 26, 2014 at 21:21
        Permalink

        na’am. gue kan pengikut syeikh Qordowi. ummatan wasathon=ummat pertengahan=ummat yg demokrat :p

        Reply
        • February 27, 2014 at 07:52
          Permalink

          Hahaha, ga sekalian umat yg nasionalis demokrat? :-p

          Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *