Existere, Dolly dan Gugatan Terhadap Kaum Laki-laki

Novel The Road to The Empire, telah mengenalkan publik pada nama Sinta Yudisia. Mulanya mungkin sebagian orang akan berpikir, itu novel terjemahan. Tapi apabila berkenalan langsung dengan Sinta Yudisia melalui blog pribadinya, pikiran itu akan langsung pupus. Ini karya perempuan asli Indonesia, warga Surabaya.

Sinta Yudisia kemudian merilis Existere pada Juni 2010. Existere adalah novel tentang perempuan, tentang suka-duka mereka, tentang pikiran mereka, tentang perasaan mereka. Ketiga tokoh utama novel tersebut adalah perempuan dengan latar belakang yang berbeda, bahkan Ochi dan Milla memiliki latar belakang ibarat bumi dan langit. Ochi dari keluarga kaya dan harmonis, sedangkan Milla dari keluarga miskin dan penuh konflik. ‘Jembatan’ antara keduanya adalah Maida, yang berasal dari keluarga kaya dan penuh konflik.

Existere bicara soal perempuan mengatasi permasalahan hidup. Pembaca diajak untuk menyelami alam pikiran dan perasaan tokoh-tokohnya jauh ke dalam. Menyelami alasan kenapa Maida lebih memilih menyerah pada segala keputusan orangtua, alasan kenapa Milla yang merupakan ‘aktivis’ masjid kampung kemudian berubah dan memilih menjajakan tubuhnya pada para lelaki, juga alasan kenapa Ochi rela meninggalkan kehidupan mewah demi mengabdikan dirinya pada golongan masyarakat marjinal.

Existere juga menggugat keegoisan laki-laki. Laki-laki yang cukup berilmu dalam agama namun menilai semua berdasar ‘kacamata’nya yang hitam-putih, laki-laki yang menyalahkan perempuan ketika tidak mendapatkan keturunan, laki-laki yang ketika kehilangan dominasi dari istrinya kemudian ‘membeli’ kembali dominasinya dari perempuan lain, juga tentang laki-laki yang menganggap perempuan hanyalah seonggok daging bernyawa pemuas hasrat naluri kebinatangannya.

Existere mencoba menohok nurani lewat penceritaan tentang Dolly, daerah pelacuran di Surabaya yang ditutup pemerintah pada tahun 2014. Dolly diceritakan dengan ragam alasan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Membahas Dolly tidak hanya membahas halal-haram, tapi juga tentang mencari solusi bagi para penghuninya. Dari sana Sinta Yudisia seperti hendak mengungkapkan realitas Indonesia, bukan Dolly atau Surabaya semata. Existere, juga Laskar Pelangi, sama-sama memotret kemiskinan di sudut negeri Indonesia. Bedanya, Existere mengantar pembaca menemukan nuansa kelam dan getir. Penulis yang tinggal di Surabaya, menggambarkan dengan baik suasana Dolly, daerah ‘wisata syahwat’ yang pernah terkenal sampai ke kalangan turis mancanegara itu.

Klik ini dong:  Kepada Seluruh Anak Sekolah, di Manapun Kamu Berada
Cover Novel Existere
e-sentral.com/mizan

Bagi para aktivis pemberdayaan, terutama yang mengkhususkan sasarannya pada para penjaja tubuh, novel ini dapat memberikan gambaran yang mendekati realita karena penulisnya telah melakukan riset kecil-kecilan sebelum menulis novelnya. Tapi jika Anda menyukai novel dengan banyak dialog, mungkin akan merasa bosan dengan novel ini karena Existere banyak memakai dialog dengan bahasa hati, bukan lisan para tokohnya.

Judul Buku: Existere | Penulis: Sinta Yudisia | Penerbit: Lingkar Pena Publishing House, Jakarta, Juni 2010 | Tebal: 384 halaman | Resensi ini telah dimuat di Majalah KHAlifah edisi 26, September 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *